Setelah sekian lama hubungan ku dengan dia, aku makin merasa terhimpit oleh rasa kangen yang dia miliki. Awalnya hal itu bukanlah masalah besar, kuanggap hanya ungkapan rasa sayang dia ke aku. Sering sekali sms2 dia masuk ke HP ku. Walaupun tanpa isi yang penting sms-sms itu selalu datang dengan isi sapaan “Selamat pagi”, “Met maem”, “Gud nite, sweet dream”, “Met Kerja”, “Ati2 saat pulang” dll. Bahkan terkadang hanya sms berisi “Beb…”
Begitu banyak sms yang kuterima, haruskah kubalas semua SMS itu ?? Apakah yang harus kutulis dalam balasan sms nya ?? Karena menurut ku sms – sms itu tidak membutuhkan jawaban / balasan. Semua sms itu adalah ungkapan rasa kangen yang iya rasakan ke diriku.. Umumnya orang akan tersanjung, terbang tinggi diawang – awang mendengarkan hal itu, tetapi tidak buat aku…
Banyak hari kulewati dengan memikirkan arti semua sms – sms nya. Besarnya cinta nya pada diriku diungkapkan lewat sms - sms itu. Namun aku tak mau, aku bosan akan hal itu. Saat sms itu masuk aku membaca dan mendapati isi yang sama sesuai pikiran ku, saat aku sibuk ada sms lagi tanpa isi yang berarti dan menyita waktu dan konsentrasiku. Inbox ku penuh dan aku harus menghapus satu persatu sms nya.
Tak hanya sms, telp dari dia juga rutin dilakukan hampir setiap hari.. Walaupun tanpa tujuan yang jelas telp itu tetap dilakukan karena rasa kangen dirinya. Sering kutanyakan apakah semua itu harus dilakukan? Apakah dia harus mendengarkan suaraku setiap hari? Apakah yang harus dibicarakan lagi saat kita berbicara di telp?
Apakah aku salah merasa seperti ini ?? Apakah aku kurang mencintainya seperti dia mencintai aku ? Apakah aku tidak romantis ? Apakah aku cuek akan dirinya ? Apakah aku tidak bisa membuat dia bahagia ? Aku lelah.. Aku bingung.. Aku takut..
Aku lelah…
Menghadapi rasa kangen yang selalu dia jadikan alasan untuk mengirim sms – sms itu.. Rasa kangen tersebut seperti tanpa batas dan tak pernah habis. Sekuat apapun tenagaku untuk membalas rasa kangen itu tetap saja tidak membuahkan hasil yang berarti. Aku tak tahu harus dari mana lagi aku mencari kekuatan untuk mengimbangi rasa kangen itu.
Aku bingung…
Mengapa aku tidak merasakan hal yang sama ? Apakah aku tidak cukup mencintainya ? Apakah ini normal atau ada yang salah dalam diriku ? Pertanyaan – pertanyaan itu selalu muncul dalam diriku dan semakin membuat aku bingung dengan apa yang aku hadapi saat ini. Tak kurasakan ada hal yang salah dalam hidupku, namun mengapa aku tidak bisa menjadi seperti itu ? Apa yang harus kulakukan ?
Aku takut…
Mungkinkah rasa yang begitu besar itu akan berubah menjadi sesuatu yang negatif ? Bukankah segala hal yang berlebihan dalam hidup kita tidak baik ? Kutakut semuanya berubah menjadi rasa possesif, cemburu, tak pernah puas, dan merusak hubungan kami sendiri..
Aku harap rasa kangen ini bisa berkurang, namun ku tak tahu bagaimana cara menguranginya…