Gw 27 th. Lulusan IT salah satu univ swasta di Surabaya. Kerjaan gw…mmm Boring banget…And berhubungan dengan IT tentunya. Sampai saat ini kerjaan gw adalah alat untuk ngedapetin duit saja buat gw. Ga ada yang membuat gw bener-bener interest ama kerjaan ini. Mungkin hal ini disebabkan oleh kesalahan yang aku lakukan 10 tahun yang lalu. Kesalahan bahwa aku lebih mementingkan materi daripada minat atau keinginan yang ada dalam diriku.
10 tahun yang lalu, saat itu aku masih 17 tahun, dimana aku harus berdiri di depan persimpangan hidupku untuk menentukan apa yang dilakukan untuk hidup ku di masa yang akan datang. Pilihan itu datang begitu tiba-tiba, semua menjadi membingungkan. Selama 17 th aku selalu menuntut pilihan tetapi saat dihadapkan pada saat itu aku menjadi gamang, bingung, takut, dan tidak tahu apa yang aku inginkan. Yang terngiang-ngiang dalam telingaku hanya suara
“Pilih lah yang terbaik untuk masa depan yang cerah dan mapan”, itulah saran dari semua orang yang ada disekitarku.
Yang aku ingat penekanan kata “Mapan” begitu dalam saat itu, dimana memang kondisi financial yang kami alami saat itu bukan yang terbaik. Jadi hal itu menjadi satu acuan utama dalam hidupku saat itu. Kemapanan dalam konteks anak berumur 17 tahun memang sangat sempit. Hanya uang dan kekuasan dalam hidup yang ada dipikiran bocah itu. Mapan membuat kita dapat bahagia dalam menjalani hidup. Karena hidup yang mapan akan memberikan apapun yang kita butuhan di dunia ini. Dan bila kebutuhan hidup kita terpenuhi artinya kita akan bahagia. Jadi saat itu aku bertekad untuk meraih kemapanan tersebut. Untuk mencapai kemapanan tersebut aku harus mengambil pilihan.
Saat itu aku baru lulus SMU, dan harus memilih jurusan apa yang akan aku ambil untuk kuliahku. Banyak sekali pilihan yang ada diluar sana. tetapi aku sendiri sudah menentukan pilihanku. 1. Desain Grafis, aku pilih karena aku menyukai seni, sejak kecil aku memang telah menyukai hal-hal berhubungan deng seni, terutama gambar. Namun minatku itu harus aku kurangi agar aku dapat memiliki waktu belajar lebih banyak untuk memperoleh nilai-nilai terbaik di sekolahku. 2. Perhotelan, aku pilih karena seorang kakak sepupuku telah menempuh jurusan ini di bali, dan dia memiliki hidup yang mapan. 3. Komputer, ini adalah pilihan terakhir yang kusediakan karena memang aku sedikit menyukai benda yang dinamakan komputer dan pada saat itu bidang yang berhubungan dengan komputer memiliki peluang untuk mendapatkan uang yang banyak di masa yang akan datang. Sedangkan untuk jurusan-jurusan yang lainnya aku sama sekali tidak melirik dan berniat untuk mencobanya.
Detik-detik kelulusan sudah dekat, aku harus segera menentukan pilihan kuliahku. Aku mencari informasi untuk pilihan pertama yaitu Desain Grafis. Jurusan ini memang sesuai dengan minatku, berbau seni. Namun banyak biaya yang harus ditanggung selama menekuni jurusan ini. Mulai dari peralatan gambar, komputer, kamera digital, cat dan masih banyak yang lainnya. Memang ini adalah jalur yang aku suka, tetapi bila harus berenti ditengah-tengah karena kekurangan biaya memilihnya meupakan satu tindakan bodoh. Kendala financial memang menghantuiku saat itu, setelah papa ku meninggal pada umurku 10 tahun, mama ku berjuang seorang diri untuk menghidupiku dan biaya sekolahku. Untung ada kerabat dari papa yang mau membantu dengan mengirimkan uang secara rutin setiap bulan. Namun aku setelah aku hitung dapat dipastikan bahwa simpanan itu tidak akan cukup. Oleh karena itu aku terpaksa membuang impian ku untuk memilih pilihan pertama itu.
Pilihan kedua, Manajemen Perhotelan adalah satu bidang yang mendapatkan dukungan dari orang-orang sekelilingku. Aku berusaha mempersiapkan diriku sebaik-baiknya untuk jurusan ini. Karena universitas yang aku pilih adalah universitas negeri di Pulau Dewata Bali yang memiliki kredibilitas yang sangat tinggi dan memiliki proses penerimaan mahasiswa yang sangat ketat. Setiap tahun ada 5000 kandidat yang pada akhirnya hanya akan diterima sejumlah 1500 orang sebagai calon mahasiswa baru. Hal ini menjadi tantangan bagiku dan membuatku minder atas apa yang telah aku miliki. Untuk mengatasi rasa minder itu aku berusaha untuk memperkaya wawasan dan pengetahuanku. Setelah formulir pendaftaran keluar aku mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk kuliahku ini. Mulai dari dokumen-dokumen pendaftaran sampai informasi mengenai tempat tinggal disana apabila aku dapat masuk ke universitas tersebut. Memang aku mendapatkan kemudahan untuk melakukan segala persiapan tersebut, karena kakak sepupuku yang masih menyelesaikan studynya disana dapat memberikan aku informasi yang aku butuhkan. Segala persiapan sudah matang dan tinggal menunggu waktu pendaftaran saat peristiwa itu terjadi. Peristiwa Mei 1998 yang mengguncang seantero negeri kita, dimana kerusuhan masal berkecamuk dimana-mana dan kerusakan disegala bidang terjadi. Peristiwa itu memukul bidang pariwisata negeri ini, termasuk didalamnya bidang perhotelan. Selain memukul segala bidang di negeri ini peristiwa itu memukulku secara tidak langsung dimana semua orang yang semula mendukungku spontan berubah 180 derajat melarangku untuk memilih pilihan keduaku.Bingung, bimbang dan pusing berkecamuk diotak ku. Yang aku tahu hanya ada 1 pilihan di depan mataku.
Seperti telah digariskan demikian hidupku dengan satu pilihan yang tersisa. Pilihan itu harus aku ambil dan aku jalani dengan segala resiko yang ada. Dan dari situlah segala kehidupanku dimulai…